Bebelallee 15, Hamburg, 22299, Germany

Gamelangruppen beim Musikfestival “Klub Katarakt”

Die beiden Gamelangruppe des indonesischen Generalkonsulats “Margi Budoyo” und “Sekar Budaya” nahmen am experimentellen Musikfestival “Klub Katarakt” teil.  Das international ausgerichtete Musikfetival fand vom 16. bis zum 19. Januar 2019 im Kampnagel Hamburg statt.

Kegiatan ini diadakan oleh Klub Katarak bekerjasama dengan KJRI Hamburg, Kulturbehorde Hamburg, Hamburgische Kulturstiftung, Elisabeth und Karl-Heinz Behnke stiftung dan Dr. Horst Rusch stiftung.

Festival dibuka dengan instalasi konser berjudul Parcours, dimana penonton bebas berjalan melalui lanskap suara dan gambar dari beberapa jenis musik kontemporer hingga musik eksperimental yang telah ada sejak sembilan abad silam. lnspirasi dasar kegiatan ini adalah ide Bernd Alois Zimmermann tentang ‘bentuk bola waktu’ yang disusun oleh komposer pada tahun 1960an. Selain Gamelan, seniman yang berpartisipasi adalah ansambel Trobar e-Cantar, kuartet gesek pemain biola Lisa Lammel dan kolektif komposer Nelly Boyd, saxophone Nika Son, Greggory Buttner dan Thomas Leboeg, instrumentalis harpsischordist Chistine Lanz, perkusi Jonathan Shapiro dan Ju-Ping pianist dari Amerika Serikat, serta film-film pendek audiovisual
.karya Frank Bretscneider ‘EXP’ dan ‘HACK’ karya Maximilian Marcoll ‘Long Night’ karya Phil/ Niblock, serta DJ Trio Sutsche yang berbasis di Hamburg.

Pada pembukaan Festival tanggal 16 Januari 2019, orkestra gamelan ‘ Margi Budoyo’ tampil 3 kali dalam rangkaian musik yang saling mengisi pada 3 aula di gedung kesenian Kampnagel. Acara dimulai pukul 20 hingga 22.30. Sementara orkestra gamelan ‘Sekar Budoyo’ tampil 45 menit pada acara pembukaan di malam terakhir festival tanggal 19 Januari 2019.

Pertunjukan orkestra gamelan ‘ Margi Budoyo’ dan ‘Sekar Budaya’ telah berlangsung dengan baik dengan antusias tinggi dari sekitar 200 para penonton yang hadir pada setiap pertunjukan. Para penonton nampak kagum dan tertarik dengan irama unik gamelan yang dihasilkan dari perpaduan instrumen gamelan yang mengiringi beberapa tembang jawa, antara lain pambuko, singe nebah, manggung sore, banyumasan dan walang kekek yang dinyanyikan oleh 3 orang sinden (2 wanita dan 1 pria). Seusai pertunjukan orkestra gamelan, sebagian penonton berhambur menuju ke panggung untuk berfoto dan ingin memainkan alat gamelan tersebut.